ICT (Information Communication Technology)

Ditulis Oleh Akmaludin M.Pd, Marwan Hakim S.Kom, Sapriadi Budiman S.P Senin, 09 Agustus 2010

Pelatihan Peningkatan Kemampuan Guru Matematika

Membuat  Media Pembelajaran  Berbasis ICT (Information Communication Technology) Tingkat SMP/MTs  Se  Kecamatan  Aikmel  dan Wanasaba Lombok Timur

Pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan, atau sikap baru sedemikian hingga individu berinteraksi dengan informasi dan lingkungan Pidarta (2007:23). Sementara itu pembelajaran matematika  di sekolah demikian kompleks dan rumit terkadang tidak jarang ditemukan siswa jenuh, bosan dan tidak termotivasi untuk belajar.  Untuk itu pemilihan alternatif yang lebih kreatif dari pendidik dalam hal ini guru adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran.

Tak dapat dipungkiri bahwa siswa merupakan mahluk sosial yang senantiasa berhadapan dengan situasi sosial yang kompleks. Disamping itu pula siswa mempunyai kemampuan yang beragam dan juga kebutuhan yang beragam pula. Dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ilmu-ilmu pendidikanpun mengalami kemajuan hususnya dalam pengeterapan media sebagai alat pembelajaran , hal ini dpat dilihat dengan banyaknya para  ilmuan dari berbagai disiplin ilmu telah banyak mengungkapkan rahasia-rahasia yang menyelimuti tentang berbagai keunggulan pengunaan media sebagai alat bantu belajar yang  baik. Media  atau alat peraga dapat digunakan untuk mengatasi rasa kebosanan siswa, jika siswa tertarik dengan apa yang mereka kerjakan, mereka akan menikmati proses belajar mengajar dan memahami materi yang diberikan (Puskur Balitbang Depdiknas, 2006: 10). Hal ini sejalan dengan pendapat DePorter dalam Muntaha (2008 : 125) menyatakan, bahwa media visual/alat peraga dapat menciptakan lingkungan yang optimal, baik secara fisik maupun mental. Hal yang terpenting adalah bahwa media mampu mendorong siswa untuk berbicara, menulis dan dengan menggunakan media proses belajar mengajar lebih efektif dan hubungan antara guru-siswa akan terjalin dengan baik.

Selanjutnya  Sukartiwi  (2008: 69) menyatakan ada beberapa keuntungan yang dapat diraih dengan menggunakan alat peraga yaitu:  meningkatkan motivasi belajar siswa, Mencegah kebosanan siswa dalam mengikuti suatu proses belajar mengajar, menjadikan proses belajar mengajar berjalan lebih sistematis.  Selanjutnya dikatakan keuntungan lain dalam menerapkan alat peraga dalam belajar adalah memudahkan siswa memahami instruksi guru dalam proses belajar mengajar, memperkuat pemahaman siswa pada konteks pelajaran yang diharapkan, membangkitkan dan menjaga ketertarikan siswa, merangsang otak siswa untuk berfikir dengan landasan yang kongkrit  dan mendapatkan tingkat pemahaman yang tinggi secara efisien dan tingkat permanensi dalam pembelajaran siswa.

Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Piget dalam Salavin (1994:45) menyatakan bahwa setidaknya  ada beberapa keuntungan penggunaan alat peraga dalam peroses belajar mengajar (1) dapat memusatkan perhatian pada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya. (2) Lebih memperhatikan peranan dan inisiatif siswa serta keterlibatannya secara aktif dalam kegitan pembelajaran

Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa  penggunaan  media dalam proses belajar mengajar matematika  merupakan salah satu unsur yang  penting karena dapat mengopimalkan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Selain itu dapat memberikan ruang bagi tercapainya pesan secara visual, sehingga dapat menarik dan menghibur peserta didik ujung-ujungnya  meningkatkan kemampuan komunikatif para siswa.  Kini guru telah banyak berhadapan dengan alat bantu belajar seperti slide proyektor, multi media, komputer, internet dan lainnya akan tetapi kemampuan sumber daya pengguna terutama guru matematika belum begitu banyak yang menguasai terlebih di sekolah Madrasah Swasta di Kecamatan Aikmel dan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur.

Menurut penelitian bahwa untuk kepentingan pembelajaran matematika dalam pengunaan alat peraga (media) dalam pembelajaran matematika diduga mampu meningkatkan hasil maupun motivasi berperestasi  belajar. Hal yang senada disampaikan Sardiman (2004:35) mengatakan bahwa dengan melibatkan siswa melaui kegiatan memanipulasi benda dapat meningkatkan motivasi belajar siswa hingga 40%.  Jadi tugas guru adalah bagaimana mampu memilih dan merancang alat bantu belajar matematika ketika siswanya mengalami kesulitan dalam menerima suatu konsep yang diajarkan.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnnya arti sebuah media pembelajaran terutama media  yang berbasis ICT dalam pembelajaran matematika.  Ada beberapa  manfaat yang dapat dipetik oleh pendidik dan peserta didik penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar adalah : 1) Memperjelas penyajian pesan kepada siswa ,  2) Membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, 3) Mendorong muculnya kreatifitas guru, 4) mempermudah pencapaian tujuan Pembelajaran

Metode Pelatihan

Pelatihan bertujuan untuk membantu dan mendorong  guru matematika meningkatkan pengetahuan guru  terhadap software yang dapat dibuat sebagai media pembelajaran matematika yang berbasis ICT di kelas, keterampilan, kemampuan guru  dalam menerapkan dan  membua bahan ajar matemetika  yang berbasis ICT yang dilakuka terhadap 30 orang peserta yakni Guru SMP dan MTS Swasta yang berada di kecamatan Aikmel,Wanasaba dan Suralaga.

Tahap Perencanaan

Pada tahap ini, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan meliputi:  mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi guru matematika utanya dalam penerapan teknologi pembutan media pembelajaran  dan menggunakanya dalam proses belajar mengajar,  penyususnan program kegitan, penyususnan rencana pelaksanaan, pembuatan alat evaluasi (istrumen/pretes dan post test).

Tahap Pelaksanaan/ Sajian Materi

Pada tahap ini, team  melaksanakan seluruh isi pesan dalam tahap perencanaan pada proses kegiatan berdasarkan pendekatan yang digunakan. Sementara Tahap Pendampingan dan Observasi, pada tahap ini dimaksudkan untuk mengatahui; 1) apakah   selama kegiatan peserta menjadi lebih aktif, 2) apakah   selama kegiatan peserta menjadi lebih kreatif, 3) apakah   selama kegiatan peserta menjadi lebih  berpartisipasi dan 4) apakah   selama kegiatan peserta menjadi mampu membuat bahan ajar berbasis ICT, 5) adakah kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh team selam pendampingan, 6) faktor-faktor apa sajakah yang menyebabkan sehingga peserta tidak menjadi lebih kreatif, aktif, dan berpartisipasi dalam kegiatan ini, 7) alternatif-alternatif apakah yang dapat ditempuh untuk memecahkan masalah yang ada untuk dilanjutkan pada siklus/ kegitan berikutnya berikutnya, 8) bagai mana hasil kegiatan peserta selama mengikuti kegiatan

Tahap Refleksi dan Evaluasi

Pada tahap ini  team berusaha untuk membahas temuannya selama kegiatan berlangsung. Adapun langkah-langkah untuk beberapa tahapan yang berupakan dasar untuk tahapan berikutnya adalah: (1) melaksanakan tahapan perencanaan, (2) tahapan tindakan, (3) tahapan pendampingan/ observasi, dan (4) tahapan refleksi dan evaluasi.   Indikator keberhasilan tindakan ini, meliputi: (1) meningkatnya kreativitas peserta  (2) meningkatnya aktivitas peserta mengikuti kegiatan,  (3) meningkatnya kemampuan peserta membuat media pembelajaran.

Diskusi Hasil Kegiatan

Bahwa secara umum bahwa pada tahap I atau siklus I ini belum berhasil secara umum meskipun pada  kegiatan tertentu sudah berhasil, namun pada variabel lain masih banyak kekurangan. Sedangkan pada tahap II atau siklus II  secara umum bahwa pada tahap ini sudah berhasil, namun pada asfek lain masih banyak kekurangan. Sementara tahap ketiga yang dimulai sejak 16 juli 10 agustus  sudah berhasil secara umum, namun belum sampai pada tingkat mahir Untuk kepentingan itu kegiatan hendaknya terus dilanjutkan dan dibiayai sehingga guru-guru di kecamatan ini tidak teringgal dengan guru dikabupaten Lombok Timur Khususnya . Adapun Hasinya adalah  terdapat penngkatan aktivitas, kreativitas dan kemampuan guru dalam membuat bahan ajar selama kegiatan

Kalender

Polling

Tampilan website ini ?

 

 

 

 


  Results